" Duuh,panas banget yaa hari ini..!! Panasnya beda banget deh. Mungkin ini dampak dari pemanasan global yaa.. "
Tidak mengherankan apabila kalimat tersebut terucap. Hal ini, jika melihat cuaca sekarang ini. Ada yang bilang pemanasan global itu hanya khayalan para pecinta lingkungan. Ada yang bilang itu sudah takdir. Ilmuwan juga masih pro dan kontra soal itu. Yang pasti, fenomena alam itu bisa dirasakan oleh kita. Pemanasan global merupakan permasalahan global utama yang kini dihadapi oleh seluruh negara di muka Bumi ini. Sedangkan bagi Indonesia sendiri, pemanasan global akan berdampak pada hambatan pertumbuhan ekonomi, menurunnya ketahanan pangan, meningkatnya gangguan kesehatan. Hasil penelitian terakhir, menunjukkan bahwa masalah pemanasan global terjadi karena tindakan manusia yang dimulai sejak revolusi industri 50 tahun terakhir ini. Oleh karena itu, perlu adanya upaya-upaya adaptasi terhadap dampak pemanasan global.
Upaya yang dapat dikembangkan sebagai upaya adaptasi terhadap pemanasan
global adalah teknologi hijau. Untuk memahami lebih jelas lagi, mari kita pelajari lebih dalam mengenai Teknologi Hijau (Green Technology) ini.
Teknologi hijau merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian atau keberlanjutan kehidupan di planet bumi ini. Kelestarian atau keberlanjutan (sustainabilitas) yang dapat diartikan sebagai perihal pemenuhan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan di masa depan tanpa merusak sumber daya alam, atau pemenuhan kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Apa itu Green ICT?
Seperti yang kita ketahui, pemakaian sumber daya energi di muka Bumi ini meningkat seiring dengan pertumbuhan teknologi. Terutama konsumsi energi untuk penerapan ICT, ternyata dapat mencapai 40% dari total konsumsi energi secara global. Sehingga berakibat pada stok sumber daya energi yang kian menipis.
Green ICT atau biasa disebut Green IT atau Green Computing adalah bagaimana cara untuk menerapkan ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang ramah lingkungan. Tujuannya adalah memberikan kontribusi yang besar dalam menjaga kelestarian alam baik secara langsung maupun tidak langsung.
Bagaimana dengan di Indonesia
Indonesia dengan penduduknya yang mencapai 200 juta jiwa, tentunya menggunakan berbagai macam barang elektronik seperti handphone, laptop, tv, dll. Secara global, dampak emisi karbon dari sektor ICT secara keseluruhan adalah sebesar 2%, dimana komponen-komponennya adalah BTS, ponsel, PSTN, TV, Radio, Broadband, Narrowband, limbah ICT, seperti komputer bekas, komponen2 lainnya, dsb.
Tentu saja, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan. Tak mengherankan, semua pihak dituntut berkontribusi bagi pengurangan emisi karbon dan pemanasan global.
Pemerintah Indonesia sendiri, pada G20 Summit di Copenhagen, telah menyampaikan komitmennya dengan menargetkan penurunan emisi sebesar 26% pada tahun 2020.
Emisi karbon dari industri ICT memang kecil yaitu hanya 2 persen, namun pengembangan penggunaan peralatan ICT, dikhawatirkan akan semakin meningkatkan pula tingkat emisi karbon dunia. Dengan penggunaan ICT yang inovatif dan efisien bisa menurunkan sekitar 20 persen emisi CO2 dari industri lain (green by ICT).
Sebagai makhluk yang mendiami Bumi, tentunya kita harus menjaga dan merawat Bumi dengan sebaiknya. Apa yang kita lakukan dan kerjakan, tentunya berpengaruh terhadap Bumi ini. Contohnya adalah pemanasan global tersebut.
Hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak terhadap pemanasan global adalah dengan menghentikan pengisian daya yang berlebihan pada handphone dan khususnya terhadap laptop. Semakin lama kita melakukan pengisian terhadap baterai, maka akan semakin lama pula arus listrik yang akan mengalir. Hal ini selain boros terhadap listrik, akan mempercepat rusak terhadap baterai. Akibat pengisian daya yang konstan atau terus-menerus akan mengurangi kapasitasnya. Berkurangnya kapasitas baterai akan membuat baterai cepat drop dan pada akhirnya Anda harus membeli baterai yang baru untuk menggantinya.
Selain itu, akan lebih baik tidak menyalakan komputer maupun barang elektronik yang lain apabila tidak dibutuhkan. Hal ini digunakan untuk melakukan penghematan terhadap penggunaan energy.
Kemudian, langkah berikutnya adalah menyalakan kembali PC Jadul. Jika Anda senang melakukan utak-atik komputer, jangan sia-siakan komputer jadul teronggok di gudang. Bongkar lagi hard drive-nya dan kalau masih bisa berjalan bisa diinstal dengan sistem operasi Linux atau gOS yang lebih sederhana dan tidak membutuhkan banyak perangkat pendukung modern.
Komputer sederhana ini setidaknya dapat digunakan untuk mengetik, mengerjakan tugas sekolah, atau siapapun yang ingin belajar dasar-dasar penggunaan komputer. Langkah daur ulang komputer tua juga bermanfaat karena hingga kini belum ada solusi konkrit untuk mengolah limbah elektronik, seperti komputer.
Sebetulnya masih banyak lagi yang dapat kita lakukan, seperti menghemat penggunaan energi listrik dengan perangkat yang lebih efisien, melakukan proses recycling PC, circuit board, ponsel, vocer isi ulang, dsb, mengganti layar PC/TV dari CRT ke LCD/LED yang hemat energi
Rasanya tak sulit untuk melakukan hal-hal di atas. Setidaknya, dengan melakukan hal-hal di atas, kita dapat mengurangi penggunaan energi yang berlebihan. Mari kita tumbuhkan kesadaran akan pentingnya hal ini, dimulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu. Jika semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya masalah penggunaan energy, maka akan semakin hijau pula Bumi kita.







0 Komentar:
Poskan Komentar